Nasional

MUI Ingatkan Pendakwah Jaga Adab pada waktu Berceramah

JAKARTA – Para ulama, tokoh agama atau penceramah sangat penting untuk menjaga etika pada berdakwah pada era digital. Jika para ulama tiada memperlihatkan hal yang tersebut baik, juga bukan berhati-hati pada berdakwah, maka mampu mengempiskan esensi nilai keislaman dan juga dapat mendegradasi pendakwah itu sendiri.

Hal ini dikatakan Ketua Komisi Dakwah Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH Ahmad Zubaidi. Ia mengkhawatirkan kondisi yang disebutkan akan dimanfaatkan oleh para kelompok yang digunakan tidak ada bertanggung jawab, untuk saling mengadu-domba umat Islam maupun organisasi, dengan tujuan menciptakan konflik.

“Konteksnya supaya dakwah kita ini sanggup terus berjalan dengan baik juga juga tentu agar para dai kita tetap memperlihatkan diapresiasi oleh masyarakat,” ucap Kiai Zubaidi di area Jakarta, Hari Minggu (15/12/2024).

Menurut akademisi Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah DKI Jakarta ini, dakwah harus mengedepankan bahasa yang dimaksud baik, sopan, kemudian mendidik, dengan tujuan memberikan contoh yang digunakan baik untuk umat. Oleh akibat itu, etika, adab atau tata krama, adalah sekolah dasar yang dimaksud harus dimiliki para dai dalam samping institusi belajar ilmu.

Kiai Zubaidi mengatakan, kalau hanya saja mengedepankan ilmu tanpa adab, maka mampu jadi akan memunculkan sikap sombong kemudian angkuh di berdakwah.

“Kalau sudah ada punya tata krama, adab, etika akhlak insyaallah ilmunya nanti juga akan bisa jadi bermanfaat lagi, kemudian beliau akan mempunyai tinggi dengan berkarakter yang mana baik,” katanya.

Karena itu, Kiai Zubaidi menyerukan para dai, penceramah, muballigoh, harus berhati-hati pada berdakwah, lantaran bahasa-bahasa yang digunakan tiada baik itu tentulah akan melukai mad’u atau objek dakwahnya. Sedangkan di berdakwah seharusnya justru memberikan perhatian, memberikan kasih sayang dengan nilai nilai Islam yang luhur.

Sosok yang mana juga menjabat sebagai Wakil Ketua Badan Wakaf Indonesia (BWI) ini mengungkapkan seseorang ulama atau dai seyogyanya terus belajar, kemudian memperdalam ilmu dakwahnya. Penting bagi para dai untuk menyesuaikan dengan kemajuan zaman, teknologi lalu juga karakter para jamaahnya. “Tolong jangan cuma instan, jangan hanya saja ingin jadi penceramah, pidato tok!” katanya.

Related Articles

Back to top button