Kegunaan perawatan rutin kendaraan meskipun telah lama lulus uji kir

DKI Jakarta (ANTARA) – Pakar Otomotif dari Institut Teknologi Bandung (ITB) Yannes Martinus Pasaribu mengungkap kendaraan masih perlu perawatan berkala meskipun sudah lulus uji kendaraan bermotor atau yang mana banyak disebut uji kir.
“Kenyataannya masih berbagai terjadi kecelakaan akibat rem blong, meskipun kendaraan telah dilakukan lulus uji kir,” kata ia untuk ANTARA, Selasa, menanggapi persoalan hukum kecelakaan beruntun di tempat Tol Cipularang, Jawa Barat, kemarin.
Uji kir adalah pemeriksaan berkala yang wajib dilaksanakan untuk menjamin kendaraan bermotor memenuhi persyaratan teknis lalu laik jalan.
Baca juga: Tabrakan beruntun dalam Tol Cipularang diduga dipicu truk rem blong
Uji ini dilaksanakan setiap enam bulan sekali, khususnya untuk kendaraan umum, dan juga sertifikat kir diberikan sebagai bukti bahwa kendaraan telah dilakukan lulus uji. Namun, menurutnya, meskipun kendaraan sudah lulus uji kir, kecelakaan akibat rem blong masih banyak terjadi.
“Hal ini menunjukkan bahwa meskipun kendaraan telah terjadi lulus uji kir, faktor lain seperti perawatan rutin, perilaku pengemudi, dan juga kondisi operasional kendaraan juga berperan penting di menjaga dari kecelakaan,” imbuhnya.
Selain kendaraan yang harus setiap saat prima, Yannes mengungkap bahwa tiap kendaraan, teristimewa yang digunakan mengangkut penumpang sejumlah juga kendaraan berat, wajib melakukan inspeksi menyeluruh pada komponen-komponen kendaraan sebelum melakukan perjalanan.
Baca juga: Korlantas selidiki penyulut kecelakaan Tol Cipularang
Sistem pengereman adalah salah satu komponen paling utama untuk dijalankan inspeksi. Menurutnya, langkah pertama yang digunakan harus diadakan adalah memeriksa kondisi kampas rem untuk memverifikasi tidak ada ada keausan yang digunakan berlebihan.
Selain itu, pengecekan terhadap level kemudian kualitas minyak rem sangat penting untuk menegaskan cairan berada pada tingkat yang dimaksud sesuai juga tidak ada terkontaminasi.
“Kampas rem harus dicek agar bukan aus, disertai pemeriksaan level juga kualitas minyak rem untuk meyakinkan berada pada tingkat yang digunakan sesuai, juga melakukan konfirmasi tak ada kebocoran pada sistem hidrolik,” ujar Yannes.
Baca juga: Satu orang tewas juga puluhan luka di kecelakaan dalam Tol Cipularang
Selanjutnya, pengemudi serta teknisi juga perlu memeriksa kondisi cakram kemudian tromol rem untuk melakukan konfirmasi bukan ada kehancuran atau keausan yang dimaksud dapat memengaruhi efektivitas pengereman.
Rem tangan dan juga rem darurat juga harus diuji agar berfungsi dengan optimal di situasi darurat.
Setelah pemeriksaan komponen rem, pengemudi diwajibkan melakukan uji coba pengereman untuk memverifikasi respons rem yang berfungsi dengan baik.
Baca juga: Polda Jabar sebut 19 kendaraan terlibat kecelakaan dalam Tol Cipularang
Diketahui, kecelakaan beruntun antara sebuah truk dan juga 17 minibus terjadi dalam Tol Cipularang KM 92, Jawa Barat, pada Mulai Pekan (11/11) sore. Jasa Marga mencatatkan satu orang meninggal dunia kemudian puluhan lainnya mengalami luka-luka.
Dari informasi di tempat lapangan, kecelakaan diduga terjadi akibat kendaraan truk yang digunakan melaju dari arah Bandung menuju Ibukota Indonesia mengalami rem blong, sehingga bukan dapat mengendalikan laju kendaraannya juga menabrak kendaraan-kendaraan dalam depannya.
Baca juga: Korban kecelakaan Tol Cipularang diberikan “trauma healing”






