Paradoks Fleksibilitas dan juga Kebijakan Moneter Bank Indonesia

Ciplis Gema Qori’ah
Dosen Fakultas Kondisi Keuangan juga Bisnis Universitas Jember
SALAH satu poin kebijakan Bank Indonesia yang tersebut terus-menerus ditunggu setiap bulannya adalah apakah suku bunga acuan BI dinaikkan, tetap, atau turun. Kebijakan moneter ini sangat berarti bagi agen-agen ekonomi lalu bisnis. Terlebih secara makro, pilihan untuk menstabilkan perekonomian domestik pada sedang fluktuasi perekonomian global salah satunya adalah ketepatan memainkan kebijakan moneter.
Satu konsep penting di kebijakan moneter adalah tentang inersia, yaitu sebuah pendekatan kebijakan tatkala perilaku bank sentral di meningkatkan atau menurunkan suku bunga secara perlahan dan juga bertahap, tidak dengan pembaharuan besar sekaligus. Pendekatan ini bertujuan memberikan sinyal ke pasar, menjaga stabilitas serta menurunkan volatilitas yang tersebut bisa jadi muncul dari pembaharuan kebijakan yang mendadak. Namun, pendalaman wacana terkait konsep ini memunculkan dilema yang dimaksud dikenal sebagai paradoks fleksibilitas.
Dalam literasi ekonomi, paradoks fleksibilitas ialah suatu fenomena ketika fleksibilitas nilai tukar yang tersebut lebih besar tinggi, justru meningkatkan volatilitas output. Dimana seharusnya menjadi mekanisme penyeimbang pasar. Akibatnya, dampak guncangan dunia usaha menjadi lebih banyak dalam. Dalam konteks ini, kita akan mengeksplorasi bagaimana pendekatan inersia kebijakan moneter mampu membantu mengatasi paradoks fleksibilitas dan juga apa implikasinya bagi Bank Indonesia (BI), khususnya di menghadapi tantangan kegiatan ekonomi domestik serta global.
Paradoks fleksibilitas terjadi khususnya di situasi jebakan likuiditas (liquidity trap), ketika suku bunga nominal mendekati nol serta alat kebijakan moneter konvensional menjadi kurang efektif. Dalam kondisi ini, peningkatan fleksibilitas harga, yang tersebut memungkinkan biaya beradaptasi dengan cepat terhadap inovasi permintaan atau penawaran, dapat memperburuk deflasi. Ketika permintaan melemah, harga jual turun dengan cepat, yang menyebabkan ekspektasi naiknya harga juga menurun.
Penurunan ekspektasi pemuaian ini, pada situasi dalam mana suku bunga nominal tak mampu diturunkan tambahan lanjut, akan menyebabkan peningkatan suku bunga riil. Hal ini berdampak negatif pada pembangunan ekonomi lalu konsumsi, juga memperburuk penurunan output. Dengan kata lain, fleksibilitas nilai tukar yang dimaksud lebih banyak tinggi justru memperbesar efek kontraksi ekonomi, alih-alih menjadi mekanisme stabilisasi.
Sejurus dengan studi Bonciani lalu Oh (2020) yang menunjukkan bahwa paradoks fleksibilitas ini sebagian besar disebabkan oleh kegagalan model standar untuk menangkap karakteristik kebijakan moneter yang tersebut lebih lanjut realistis. Ketika kebijakan moneter mempunyai elemen inersia, seperti melalui penyesuaian bertahap pada suku bunga bayangan (shadow rate), efek negatif dari paradoks fleksibilitas bisa saja diminimalkan.
Inersia kebijakan moneter mengacu pada penyesuaian bertahap terhadap suku bunga kebijakan. Hal ini berarti bahwa bank sentral tak belaka bereaksi terhadap kondisi kegiatan ekonomi pada waktu ini, tetapi juga mempertimbangkan tren serta ekspektasi jangka panjang. Salah satu kegunaan utama dari pendekatan ini adalah kemampuannya untuk memandu ekspektasi pasar. Ketika bank sentral menurunkan suku bunga bayangan secara signifikan, pangsa cenderung memahami bahwa suku bunga akan tetap saja rendah untuk waktu yang dimaksud cukup lama. Keseriusan ini memengaruhi ekspektasi inflasi, yang mana berdampak pada penurunan suku bunga riil, meskipun suku bunga nominal sudah ada berada pada batas bawah nol. Dengan demikian, pendekatan inersia mampu menjaga dari terjadinya spiral deflasi juga memperbaiki output ekonomi.
Meski demikian, ada perbedaan mendasar antara penyesuaian suku bunga bayangan (shadow interest rate) kemudian suku bunga aktual. Penyesuaian bertahap terhadap suku bunga aktual belaka kerap kali tidaklah cukup untuk menangani jebakan likuiditas lantaran bukan memberikan sinyal yang dimaksud kuat untuk bursa tentang komitmen kebijakan moneter di dalam masa depan. Oleh lantaran itu, elemen forward guidance, atau panduan kebijakan di area masa depan, menjadi kunci untuk meningkatkan efektivitas kebijakan inersia. BI sebagai bank sentral Republik Indonesia, telah terjadi menerapkan elemen-elemen inersia pada kebijakan moneternya. Penyesuaian suku bunga acuan, misalnya, dilaksanakan secara bertahap di kisaran 25 basis poin. Pendekatan ini mencerminkan keinginan untuk menjaga stabilitas pangsa serta mengempiskan risiko volatilitas yang digunakan bisa saja timbul dari pembaharuan ataupun guncangan (shocks).






